Juli 28, 2026

Selayar – TNI Angkatan Laut (TNI AL) menunjukkan respons cepat dalam tragedi tenggelamnya KLM Nurul Salsa 01 di perairan selatan Pulau Polassi, Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan. Di bawah kendali Komando Daerah Angkatan Laut VI (Kodaeral VI), KRI Marlin-877 diterjunkan untuk memperkuat operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) terhadap para korban yang hingga kini masih dinyatakan hilang.

Operasi tersebut menjadi ujian kecepatan sekaligus koordinasi lintas instansi dalam menyelamatkan nyawa di tengah kondisi laut yang menantang.

Kapal penumpang itu bertolak dari Pelabuhan Pulau Jampea menuju Pelabuhan Benteng, Selayar, Rabu (15/7/2026) pukul 05.00 WITA. Namun sekitar pukul 09.30 WITA, mesin utama mengalami kerusakan total. Situasi berubah menjadi darurat setelah pompa pembuangan air tidak lagi berfungsi satu jam kemudian, membuat air terus menggenangi lambung kapal hingga akhirnya tenggelam sekitar pukul 16.00 WITA di Laut Flores.

Tak lama setelah menerima laporan resmi dari Kantor SAR Makassar pada pukul 15.50 WITA, Kodaeral VI langsung mengaktifkan respons darurat. KRI Marlin-877 diberangkatkan dari Dermaga Layang Mako Kodaeral VI pada pukul 20.03 WITA dengan membawa personel, perlengkapan keselamatan, logistik, serta lima personel Basarnas Makassar yang bergabung dalam operasi.

“Kecepatan respons dan kesiapan personel adalah kunci utama dalam menyelamatkan nyawa di tengah laut. Kami tidak membiarkan waktu berlalu begitu saja,” tegas Komandan Kodaeral VI, Laksamana Muda TNI Andi Abdul Aziz, S.H., M.M.

Memasuki Kamis (16/7/2026) dini hari, KRI Marlin-877 tiba di perairan Pulau Polassi dan segera melakukan pemetaan lokasi serta penyisiran awal. Pukul 07.00 WITA, kapal perang tersebut berada tepat di titik tenggelamnya KLM Nurul Salsa 01 dan memulai pencarian intensif terhadap korban.

Data sementara yang telah diverifikasi hingga pukul 11.00 WITA menunjukkan sebanyak 52 orang berhasil dievakuasi. Enam korban diselamatkan nelayan setempat dan dibawa ke Pulau Polassi, sementara 46 lainnya dievakuasi KLM Harapan Kita menuju Pulau Jampea. Dari jumlah tersebut, 45 orang selamat dan satu orang ditemukan meninggal dunia.

Meski demikian, operasi belum berakhir. Hasil pencocokan daftar awak kapal dan manifes sementara menunjukkan 16 orang masih belum diketahui keberadaannya. Angka tersebut masih terus diverifikasi bersama Basarnas, pemerintah daerah, dan keluarga korban.

KRI Marlin-877 kini berada di Pelabuhan Laut Jampea untuk memperkuat koordinasi sekaligus memastikan penanganan korban yang telah dievakuasi. Tim SAR juga menyiapkan penyisiran lanjutan dengan memperluas area pencarian, meliputi titik awal kapal mengalami kerusakan, lokasi tenggelam, perairan sekitar Pulau Polassi, jalur menuju Pulau Jampea, hingga kawasan yang diperkirakan menjadi arah hanyut korban berdasarkan arus laut dan kondisi cuaca.

TNI AL menegaskan operasi pencarian tidak akan dihentikan sebelum seluruh korban ditemukan. Koordinasi juga terus diperluas dengan melibatkan nelayan dan kapal-kapal yang melintas di sekitar lokasi guna mempercepat proses pencarian.

“Kami tidak akan berhenti mencari sampai seluruh korban ditemukan. Kami juga mengajak masyarakat yang memiliki informasi mengenai penumpang atau korban agar segera menyampaikannya kepada petugas. Setiap perkembangan akan kami sampaikan setelah proses verifikasi selesai,” ujar Laksamana Muda TNI Andi Abdul Aziz.

Operasi yang dipimpin Kodaeral VI ini menjadi bukti bahwa kehadiran unsur TNI AL tidak hanya menjaga kedaulatan laut, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam misi kemanusiaan ketika keselamatan warga dipertaruhkan.

Berita Terkait